*ganjel bantal sambil ngetik, mau cerita panjang*
Selalu gak bisa nyeritain secara keseluruhan apa yang dirasakan kalau menceritakan tentang skoliosis yang saya idap. Entah lisan atau tulisan. Karena awalnya menurut saya tidak harus kesedihan, kemarahan dan kekecewaan atas apa yang saya alami dalam hidup diceritakan pada setiap orang. Hari ini, untuk pertamakalinya saya ingin berbagi sekedar menceritakan apa yang terjadi, dan menjadi pengetahuan bagi teman-teman sekalian tentang skoliosis, sepanjang yang saya ketahui.
Awal tahun 2006 saya masih kelas 1 SMP di pesantren Daar El Falaah, saya tinggal di asrama putri dengan tempat tidur tingkat. Setiap olahraga saya selalu merasa pegal yang hebat disalah satu bagian sisi punggung. Saya suka menekankan bagian yang pegal ke ujung tiang kasur, karena gak mau merepotkan orang lain.
Beberapa bulan kemudian, pegalnya semakin bertambah, ketika ibu saya Sri Murniati dan ayah M Ali Taher datang menjenguk saya mengeluh minta di pijit ibu saya. Mama (begitu saya memanggilnya) kemudian menawarkan mau memijit aku dikamar. Saat dikamar, mama kaget, karena ada benjolan di punggung sebelah kanan. Mama langsung bilang ke papa dan kami minta izin pulang untuk berobat ke Rumah Sakit tempat papa bekerja, papa bekerja di Rumah Sakit Islam Jakarta Pusat saat itu.
Besoknya aku sama mama ikut papa ke kantor, untuk sekalian periksa. Aku sama mama bingung mau ke poli mana, akhirnya karena aku masih 12 tahun, aku dibawa ke poli anak tempat dokter spesialisku dari kecil berada, di poli anak dokterku bingung, dan merujuk ke dokter syaraf, karena disangka ada syaraf yg bengkak atau kenapa-kenapa. Ternyata pas kami ke dokter syaraf dokternya juga bilang itu bukan penyakit yg disebabkan syaraf, tapi aku diberi suntikan apa gitu dipunggung yang bengkak sebelah itu, untuk antisipasi aja katanya. lalu dirujuk lagi ke poli orthopaedi.
Karena pas jam di klinik orthopaedi papa sudah selesai jam kerja, papa jadi bisa temenin aku sama mama, sekitar jam 7 waktu itu. Aku di rontgen dulu. Itu pertama kali pengalaman di rontgen, serem karena harus buka bra, pakai kaya pakaian operasi, masuk ruang rontgen yang dingiiiiin banget. Ngeliat mata mama yang mau nangis aku pura-pura bawel. (Padahal emang aku ini anak yang paaaaaaaaaaling bawel). Habis di rontgen kita lalu diperiksa dan didiagnosa sama dokter J. Dia langsung vonis aku kena skoliosis parah 35 derajat kurvanya. katanya aku harus dioperasi untuk dipasang pen. Tapi karena aku masih kecil kemungkinan selamat 50%, dan ada kemungkinan klo operasi berhasil pun klo badanku gak kuat bisa lumpuh. (Sedih sih ya dijustifikasi begitu, tapi mungkin pada saat itu peralatan medis belum secanggih sekarang).
Perasaanku waktu itu bingung, masih bertanya-tanya dalam hati, "emang separah itu ya?" tapi pas ngeliat papa sama mama mereka matanya berkaca-kaca kaya mau nangis, Mama juga jadi agak marah ke dokter J, "kok gitu dok? bener gak ini? kita harus gimana?"
Langsung kalut banget keadaannya saat itu, kita ngeliatin terus hasil rontgen kok bisa tulangku jadi bentuk s gtu, bingung. Pas di mobil seingetku papa sama mama diskusi baiknya gimana, papa sambil nyetir, kayanya juga papa mama suaranya makin lirih kaya mau nangis. Papa sama mama berulang-kali tanya,"Riri mau apa nak? Riri gak apa-apa klo dioperasi? Riri berani nak?" dan yang bikin nangis adalah mereka bilang,"Maafin mama ya nak, maafin papa ya nak, Riri mau pindah sekolah? Riri mau apa nak?"
Aku cuma nangis sambil ngeliatin monas dari jendela (karena lewat monas pulangnya, dan jakarta-tangerang gak semacet sekarang), aku peluk mama yang di jok depan dar jok belakang bilang,"Riri gak apa-apa ma,pa, klo harus dioperasi ya operasi aja hehe" (tetep sambil nyengir karena emang tukang nyengir)
Malem itu papa sama mama minta maaf terus sambil nyiumin aku pas mau tidur. Aku gak ngerti dimana salahnya mereka sampe mereka minta maaf terus. Tapi malem itu ngerasa nyesek, kenapa ya tuhan kasih aku penyakit begini...
See you next part blogger :*



0 comments:
Post a Comment