Tuesday, 20 May 2014

Tulang yang Melingkar 2


Banyak yang salah paham karena cerita pertama. Seolah-olah saya tidak bersyukur dan menyalahkan tuhan. Apa yang aku ceritakan semalam adalah gambaran anak SMP, berumur 12 tahun yang belum mengerti banyak hal.

mungkin banyak juga yang salah paham tentang skoliosis. Banyak yang sok tau hanya menganggap skoliosis sebagai tulang bongkok ke samping saja. Kami disandingkan dengan penyakit-penyakit ganas seperti tumor dan kanker, seolah kami tak boleh bersuara karena apa yang kami alami seolah tidak lebih besar dan ganas seperti yang mereka alami.

Disini, saya Nur Fitri Izzati Ramadhani akan mewakili teman-teman skolioser (Sebutan saya dan teman-teman yang mengidap skoliosis) untuk memberikan pemahaman sedikit terhadap apa yang kami alami. Dan jadi pelajaran kalau-kalau hal ini terjadi pada anak, teman, atau saudara kita sendiri. Karena ada istilah,"ONCE SKOLIOSIS, FOREVER SKOLIOSIS" (Sekali skoliosis, selamanya skoliosis).

Istilah tersebut bukan tanpa alasan, karena skoliosis adalah kelainan pada rangka tubuh yang berupa kelengkungan tulang belakang. Sebanyak 75-85% kasus skoliosis merupakan idiopatik, yaitu kelainan yang tidak diketahui penyebabnya. Sedangkan 15-25% kasus skoliosis lainnya merupakan efek samping yang diakibatkan karena menderita kelainan tertentu, seperti distrofi otot, sindrom Marfan, sindrom Down, dan penyakit lainnya. Berbagai kelainan tersebut menyebabkan otot atau saraf di sekitar tulang belakang tidak berfungsi sempurna dan menyebabkan bentuk tulang belakang menjadi melengkung. Pada kasus mengapa saya sampai di operasi adalah karena kurva lengkungan saya sudah 70 derajat dan sudah menekan paru-paru serta jantung. Jadi saya sudah mulai sulit bernafas, sering sesak, dan cepat lelah juga sakit-sakitan. Jadi walaupun dioperasi, itu BUKAN MENYEMBUHKAN, tapi hanya MEMBERHENTIKAN dan atau MENGOREKSI DERAJAT LENGKUNG agar tidak semakin bertambah, atau kalau bisa dikurangi. Jadi seperti titel sarjana, kalau sudah dapat titel skolioser selamanya skolioser. serrrr....

Itu hanya sekilas, lanjut cerita kemarin ya...
setelah mengetahui saya mengidap atau menderita (banyak yang bertentangan mengenai istilah ini, saya lupa harus menggunakan mengidap atau menderita) skoliosis, orang tua saya berusaha mencari cara kesana-kesini untuk menyembuhkan saya. Apalagi pengetahuan kami tentang skoliosis saat itu masih minim, internet tidak semudah sekarang untuk mencari informasi.

Orang tua saya memeberikan saya bantal khusus yang dijual di TV-TV Shopping itu, memberikan bra khusus. Saya tidak boleh mencuci di pesantren, olahraga maupun kerja berat. Jadi seminggu sekali saya pulang ke rumah nenek saya, yang kebetulan dekat dari pesantren untuk minta dicucikan bajunya oleh bude saya.

Saya merasa pandangan semua orang berubah saat itu. Sebagian teman-teman di pesantren menganggap saya manja dan penyakitan karena tidak pernah mengikuti kegiatan olahraga, silat, dan pramuka. Tapi banyak juga teman-teman yang masih bersikap baik sama saya. Keluarga besar saya merasa bingung, heran dan kasihan atas apa yang menimpa saya. Semua orang bertanya, ada apa dengan saya, apa itu skoliosis, kenapa bisa begitu. Bahkan sampai ada yang menyalahkan karena mama saya wanita karir dan saya sakit begitu karena diurus pembantu terus atau kurang minum susu. Saya membantah, mama saya tetap mama terbaik yang saya punya hingga saat ini, dia adalah wanita yang menjadikan papa dan anak-anaknya sukses hingga saat ini, dan dia wanita berpikiran modern panutan nomer satu saya, jadi ini bukan salah mama.

Seminggu sekali saya tidak membayangkan perjuangan orang tua saya yang harus bolak-balik pandeglang (pesantren saya) dan tangerang (rumah saya) hanya untuk mengantarkan saya ke alternatif, ke tukang urut atau ke pijit khusus patah tulang. Sedih kayanya melihat mama sama papa kelelahan tiap minggu. Saya juga merasa egois pada adik-adikku Achmad Farisi dan Muhammad Faqih Arfan serta kakak-kakak Melinda Lestari dan Emma Rachma yang jadi berkurang perhatian dari papa dan mama karena mereka fokus sama si skoli yang aku derita. Aku gak pernah minta maaf langsung, sekarang lewat tulisan ini aku minta maaf ya ka, ya de makasih banget sampai sekarang kalian tetap menjaga dan mendukung aku :')

Selain cerita percobaan pengobatan sana sini itu, saya ini tipikal orang yang gak bisa ditantang, saat keadaan menjadi seperti itu saya tertantang untuk menjadi lebih berprestasi. Saya buktikan saya ikut beberapa lomba bahasa inggris dan ipa tingkat regional dan provinsi. Saya juga menjadi yang paling aktif di pesantren, saya ikut beberapa olimpiade fisika dan matematika. Bahkan saya jadi pencetus tim belajar untuk UN. Yah walaupun saya gak punya prestasi di bidang fisik alhamdulillah ada di bidang akademik. Semua karena Allah, dukungan orang tua, dan juga teman-teman. Sampai akhirnya saya lulus dari daar el falaah dengan nilai UN rata-rata 9. Alhamdulillah.

lanjut lagi nanti, cerita sebelum dan sesudah operasi ya... (^___^)b

0 comments:

Post a Comment